rank ngaz...

rank ngaz...
???

Selasa, 24 November 2009

information about hormone prolactine

Prolaktin (hormon yang menghasilkan ASI)

Hormon Prolaktin adalah salah satu hormon yang dimiliki ole wanita yang peran utamanya merangsang kelenjar air susu agar memproduksi ASI yang cukup bagi bayinya. Sudah barang tentu, hormon ini normalnya meningkat setelah melahirkan, bila hormon ini meningkat sebelum hamil maka ini merupakan suatu kondisi yg tidak normal, dimana payudara akan mengeluarkan ASI, siklus menstruasi dan terjadinya ovulasi (proses pematangan sel telur) akan menjadi terganggu, sehingga otomatis sulit untuk hamil. Oleh karena itu dokter pasti memberikan obat untuk menurunkan kadar hormon prolaktin tersebut agar berada dalam batas normal. Sekarang yang menjadi masalah, apa saja yang menyebabkan hormon prolaktin tersebut kok bisa meninggi. Berdasarkan literatur ada beberapa faktor yang dapat memepengaruhi pengeluaran prolaktin. 1)Nutrisi : Setelah makan dapat terjadi peningkatan kadar prolaktin. Protein yg terdapat di dalam suatu makanan sangat berperan thd pengeluaran prolaktin. Asam amino tirosin dan triptofan yg terdapat dalam protein, memiliki kemampuan memicu pengeluaran prolaktin. Makanan hanya meningkatkan prolaktin pd orang yg sehat saja. Selain makanan, minuman seperti bir juga memicu pengeluaran prolaktin. 2)Temperatur : 20 menit setelah mandi sauna yang panas terjadi pengikatan prolaktin. Peningkatan suhu lingkungan selama 1 jam dari suhu 27 derajat celcius menjadi 45 derajat celcius meningkatkan prolaktin sebanyak 53%. 3)Stres : Stress yang berkelanjutan dapat menyebabkan peningkatan prolaktin. Olah raga yang berat juga dapat meningkatkan prolaktin. Bila memakan makanan yg banyak mengandung lemak setelah melakukan olah raga yang berat, maka kadar prolaktin meningkat lebih tinggi dibandingkan memakan makanan yg kaya akan karbohidrat. Rangsangan pada payudara juga dapat meningkatkan kadar prolaktin. Tingginya kadar prolaktin dalam darah dapat menyebabkan ketidaksuburan/infertil baik pada wanita maupun pria. Pada wanita dapat menyebabkan tidak terjadinya ovulasi, haid yg siklusnya panjang bahkan bisa sampai tidak haid. Selain faktor diatas tadi perlu juga dipikirkan adanya tumor pada kelenjar hipofise (prolaktinoma). Biasanya, bila ditemukan kadar prolaktin darah lebih dari 50ng/ml, perlu dilakukan pemeriksaan MRI atau CT-Scan hipofise. (dr. Ferry SpOG, RSIA EVASARI, Jkt)

Prolaktin (hormon yang menghasilkan ASI)
Hormon Prolaktin dihasilkan oleh kelenjar hipofisa bagian depan yang ada di dasar otak. Prolaktin merangsang kelenjar susu untuk memproduksi ASI, sedangkan rangsangan pegeluaran prolaktin ini adalah pengosongan ASI dari gudang ASI (Sinus Lactiferus). Semakin banyak ASI yang dikeluarkan dari payudara maka semakin banyak ASI yang diproduksi, sebaliknya apabila bayi berhenti menghisap atau sama sekali tidak memulainya, maka payudara akan berhenti memproduksi ASI.
Setiap isapan bayi pada payudara ibunya akan merangsang ujung saraf di sekitar payudara. Rangsangan ini diantar ke bagian depan kelenjar hipofisa untuk memproduksi prolaktin. Prolaktin dialirkan oleh darah ke kelenjar payudara dan akan merangsang pembuatan ASI. Jadi, pengosongan gudang ASI merupakan rangsangan diproduksinya ASI.
Kejadian dari perangsangan payudara sampai pembuatan ASI disebut refleks Produksi ASI atau Refleks Prolaktin, dan semakin sering ibu menyusui bayinya, akan semakin banyak pula produksi ASI-nya. Semakin jarang ibu menyusui, maka semakin berkurang jumlah produksi ASI-nya.
Pada efek lain prolaktin, prolaktin mempunyai fungsi penting lain, yaitu menekan fungsi indung telur (Ovarium), dan akibatnya dapat memperlambat kembalinya fungsi kesuburan dan haid, dengan kata lain ASI eksklusif dapat menjarangkan kehamilan. (Roesli, 2001).

Bebarapa faktor yang meningkatkan pengeluaran hormon prolaktin diantaranya :
Makanan (asam amino tirosin dan triptofan, minuman keras), suhu tubuh suhu lingkungan yang tinggi, stress yang berkepanjangan, obat2an dll. Bila kadar hormon prolaktin masih diatas normal maka siklus menstruasi akan terganggu dan ovulasi pun bisa terhambat (Ovulasi adalah proses pematangan sel telur setiap bulan). Sehingga otomatis keadaan ini menjadi salah satu penyebab sulit untuk hamil.

Mekanisme kerja terapi alam..
Kelihatannya level normal hormon prolaktin tertinggi yaitu pada masa kehamilan/persalinan juga saat menyusui di mana ibu belum kembali dapat haid selama 6 bulan pertama. Malahan dibilang kalau level hormon ini mencapai puncaknya saat baru saja bersalin. Asumsi saya, ini mungkin bisa 'mematahkan' anggapan bahwa justru setelah bersalin, ASI tidak bisa keluar. Seharusnya, dengan level hormon setinggi itu, ditambah stimulasi (massage) yang tepat dan psikis yang OK, produksi ASI sedang bagus banget di masa2 itu.
- Ini juga yang mendukung pentingnya IMD alias menyusui baby di 1 jam pertama hidupnya mengingat level hormon ini yang tinggi pada ibu yang baru saja bersalin.
- Minggu pertama pasca bersalin, level prolaktin mencapai titik cukup rendah (50 ng/mL) dan kalau ibu tidak termotivasi untuk berupaya menyusui – level hormon ini terus menurun hingga sama dengan ibu yang tidak hamil dan tidak menyusui. Mungkin ini juga yang harus jadi catatan buat ibu menyusui untuk tetap fight dalam 1 minggu pertama belajar menyusui - produksi ASI mungkin 'kelihatan menurun' tapi jangan sampai menyerah dan menggantinya dengan susu formula.

Upaya Memperbanyak ASI

Air susu ibu (ASI) adalah cairan kehidupan terbaik yang sangat dibutuhkan oleh bayi. ASI mengandung berbagai zat yang penting untuk tumbuh kembang bayi dan sesuai dengan kebutuhannya.
Meski demikian, tidak semua ibu mau menyusui bayinya karena berbagai alasan. Misalnya takut gemuk, sibuk, payudara kendor dan sebagainya. Di lain pihak, ada juga ibu yang ingin menyusui bayinya tetapi mengalami kendala. Biasanya ASI tidak mau keluar atau produksinya kurang lancar.
Banyak hal yang dapat mempengaruhi produksi ASI. Produksi dan pengeluaran ASI dipengaruhi oleh dua hormon, yaitu prolaktin dan oksitosin. Prolaktin mempengaruhi jumlah produksi ASI, sedangkan oksitosin mempengaruhi proses pengeluaran ASI. Prolaktin berkaitan dengan nutrisi ibu, semakin asupan nutrisinya baik maka produksi yang dihasilkan juga banyak.
Namun demikian, untuk mengeluarkan ASI diperlukan hormon oksitosin yang kerjanya dipengaruhi oleh proses hisapan bayi. Semakin sering puting susu dihisap oleh bayi maka semakin banyak pula pengeluaran ASI. Hormon oksitosin sering disebut sebagai hormon kasih sayang. Sebab, kadarnya sangat dipengaruhi oleh suasana hati, rasa bahagia, rasa dicintai, rasa aman, ketenangan, relaks.
Hal-hal yang mempengaruhi produksi ASI:
Makanan.
Ketenangan jiwa dan pikiran.
Penggunaan alat kontrasepsi.
Perawatan payudara.
Anatomis payudara.
Faktor fisiologi.
Pola istirahat.
Faktor isapan anak atau frekuensi penyusuan.
Faktor obat-obatan.
Berat lahir bayi.
Umur kehamilan saat melahirkan.
Konsumsi rokok dan alkohol.
Makanan
Makanan yang dikonsumsi ibu menyusui sangat berpengaruh terhadap produksi ASI. Apabila makanan yang ibu makan cukup akan gizi dan pola makan yang teratur, maka produksi ASI akan berjalan dengan lancar.
Ketenangan jiwa dan pikiran
Untuk memproduksi ASI yang baik, maka kondisi kejiwaan dan pikiran harus tenang. Keadaan psikologis ibu yang tertekan, sedih dan tegang akan menurunkan volume ASI.
Penggunaan alat kontrasepsi
Penggunaan alat kontrasepsi pada ibu menyusui, perlu diperhatikan agar tidak mengurangi produksi ASI. Contoh alat kontrasepsi yang bisa digunakan adalah kondom, IUD, pil khusus menyusui ataupun suntik hormonal 3 bulanan.
Perawatan payudara
Perawatan payudara bermanfaat merangsang payudara mempengaruhi hipofise untuk mengeluarkan hormon prolaktin dan oksitosin.
Anatomis payudara
Jumlah lobus dalam payudara juga mempengaruhi produksi ASI. Selain itu, perlu diperhatikan juga bentuk anatomis papila atau puting susu ibu.
Faktor fisiologi
ASI terbentuk oleh karena pengaruh dari hormon prolaktin yang menentukan produksi dan mempertahankan sekresi air susu.
Pola istirahat
Faktor istirahat mempengaruhi produksi dan pengeluaran ASI. Apabila kondisi ibu terlalu capek, kurang istirahat maka ASI juga berkurang.
Faktor isapan anak atau frekuensi penyusuan
Semakin sering bayi menyusu pada payudara ibu, maka produksi dan pengeluaran ASI akan semakin banyak. Akan tetapi, frekuensi penyusuan pada bayi prematur dan cukup bulan berbeda. Studi mengatakan bahwa pada produksi ASI bayi prematur akan optimal dengan pemompaan ASI lebih dari 5 kali per hari selama bulan pertama setelah melahirkan. Pemompaan dilakukan karena bayi prematur belum dapat menyusu. Sedangkan pada bayi cukup bulan frekuensi penyusuan 10 ± 3 kali perhari selama 2 minggu pertama setelah melahirkan berhubungan dengan produksi ASI yang cukup. Sehingga direkomendasikan penyusuan paling sedikit 8 kali perhari pada periode awal setelah melahirkan. Frekuensi penyusuan ini berkaitan dengan kemampuan stimulasi hormon dalam kelenjar payudara.
Berat lahir bayi
Bayi berat lahir rendah (BBLR) mempunyai kemampuan menghisap ASI yang lebih rendah dibanding bayi yang berat lahir normal (> 2500 gr). Kemampuan mengisap ASI yang lebih rendah ini meliputi frekuensi dan lama penyusuan yang lebih rendah dibanding bayi berat lahir normal yang akan mempengaruhi stimulasi hormon prolaktin dan oksitosin dalam memproduksi ASI.
Umur kehamilan saat melahirkan
Umur kehamilan dan berat lahir mempengaruhi poduksi ASI. Hal ini disebabkan bayi yang lahir prematur (umur kehamilan kurang dari 34 minggu) sangat lemah dan tidak mampu menghisap secara efektif sehingga produksi ASI lebih rendah daripada bayi yang lahir cukup bulan. Lemahnya kemampuan menghisap pada bayi prematur dapat disebabkan berat badan yang rendah dan belum sempurnanya fungsi organ.
Konsumsi rokok dan alkohol
Merokok dapat mengurangi volume ASI karena akan mengganggu hormon prolaktin dan oksitosin untuk produksi ASI. Merokok akan menstimulasi pelepasan adrenalin dimana adrenalin akan menghambat pelepasan oksitosin.
Meskipun minuman alkohol dosis rendah disatu sisi dapat membuat ibu merasa lebih rileks sehingga membantu proses pengeluaran ASI namun disisi lain etanol dapat menghambat produksi oksitosin.

Oksitosin (hormon yang menghasilkan ASI)
Hormon oksitosin berasal dari bagian belakang kelenjar hipofisa yang terdapat di dasar otak. Sama halnya dengan hormon proaktin, hormon oksitosin diproduksi bila ujung saraf sekitar payudara dirangsang oleh isapan bayi. Oksitosin masuk ke dalam darah menuju payudara, membuat otot-otot payudara mengerut disebut hormon oksitosin. Kejadian ini disebut refleks pengeluaran ASI, refleks oksitosin atau let down refleks.
Reaksi bekerjanya hormon oksitosin dapat dirasakan pada saat bayi menyusu pada payudara ibu. Kelenjar payudara akan mengerut sehingga memeras ASI untuk keluar. Banyak wanita dapat merasakan payudaranya terperas saat menyusui, itu menunjukkan bahwa ASI mulai mengalir dari pabrik susu (alveoli) ke gudang susu (Ductus Lactiferous).
Bayi tidak akan mendapatkan ASI cukup apabila hanya mengandalkan reflek prolaktin saja, dan harus dibantu oleh refleks oksitosin. Bila reflek ini tidak bekerja, maka bayi tidak akan mendapatkan ASI yang memadai, walaupun produksi ASI cukup. Refleks oksitosin lebih rumit dibandingkan refleks prolaktin, karena refleks ini berhubungan langsung dengan kejiwaan atau sensasi ibu. Perasaan ibu dapat meningkatkan dan menghambat produksi ASI. (Roesli, 2001).
Berdasarkan pernyataan di atas maka, refleks oksitosin itu juga dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya yaitu lingkungan dimana ibu dan bayi tinggal. Ketidakpedulian akan ketenangan ibu dan bayi akan membuat ibu frustasi yang akibatnya ibu merasa sedih, bingung, kesal dan marah sebagai dampak kejiwaan sehingga mempengaruhi kerja hormon oksitosin. Hal tersebut menuntut lingkungan terdekat yaitu keluarga untuk berperan dalam menciptakan suasana ketenangan dan kenyamanan ibu dan bayi.
Adapun dalam pemeliharaan laktasi terdapat dua faktor penting yaitu:
1. Rangsangan
Bayi yang minum air susu ibu perlu sering menyusu, terutama pada hari neonatal awal. Penting bahwa bayi’difiksasi’ pada payudara dengan posisi yang benar apabila diinginkan untuk meningkatkan rangsangan yang tepat. Rangsangan gusi bayi sebaiknya berada pada kulit areola, sehingga tekanan diberikan kepada ampulla yang ada di bawahnya sebagai tempat tersimpannya air susu. Dengan demikian bayi minum dari payudara, dan bukan dari papilla mammae.
Sebagai respons terhadap pengisapan, prolaktin dikeluarkan dari grandula pituitaria anterior, dan dengan demikian memacu pembentukan air susu yang lebih banyak. Apabila karena suatu alasan tertentu bayi tidak dapat menyusu sejak awal, maka ibu dapat memeras air susu dari payudaranya dengan tangan atau menggunakan pompa payudara. Tetapi pengisapan oleh bayi akan memberikan rangsangan yang jauh lebih besar dibandingkan dengan kedua cara tersebut.
2. Pengosongan payudara secara sempurna
Bayi sebaiknya mengosongkan satu payudara diberikan payudara yang lain. Apabila bayi tidak mengosongkan payudara yang kedua, maka pada pemberian air susu yang berikutnya payudara yang kedua ini yang diberikan pertama kali, atau bayi mungkin sudah kenyang dengan satu payudara, maka payudara yang kedua digunakan pada pemberian air susu berikutnya. Apabila diinginkan agar bayi benar-benar puas (kenyang), maka bayi perlu diberikan baik air susu pertama (fore-milk) maupun air susu kedua (hind-milk) pada saat sekali minum. Hal ini hanya dapat dicapai dengan pengosongan sempurna pada satu payudara.

Kamis, 29 Oktober 2009

makalah promosi kesehatan dengan perubahan prilaku sebagai dampak promosi kesehatan

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A. Latar Belakang

Bekerja dengan tubuh dan lingkungan yang sehat, aman serta nyaman merupakan hal yang di inginkan oleh semua pekerja. Lingkungan fisik tempat kerja dan lingkungan organisasi merupakan hal yang sangat penting dalam mempengaruhi sosial,mental dan phisik dalam kehidupan pekerja. Kesehatan suatu lingkungan tempat kerja dapat memberikan pengaruh yang positif terhadap kesehatan pekerja, seperti peningkatan moral pekerja, penurunan absensi dan peningkatan produktifitas. Sebaliknya tempat kerja yang kurang sehat atau tidak sehat (sering terpapar zat yang bahaya mempengaruhi kesehatan) dapat meningkatkan angka kesakitan dan kecelakaan, rendahnya kualitas kesehatan pekerja, meningkatnya biaya kesehatan dan banyak lagi dampak negatif lainnya.

Pada umumnya kesehatan tenaga pekerja sangat mempengaruhi perkembangan ekonomi dan pembangunan nasional. Hal ini dapat dilihat pada negara-negara yang sudah maju. Secara umum bahwa kesehatan dan lingkungan dapat mempengaruhi pembangunan ekonomi. Dimana industrilisasi banyak memberikan dampak positif terhadap kesehatan, seperti meningkatnya penghasilan pekerja, kondisi tempat tinggal yang lebih baik dan meningkatkan pelayanan, tetapi kegiatan industrilisasi juga memberikan dampak yang tidak baik juga terhadap kesehatan di tempat kerja dan masyarakat pada umumnya.

Dengan makin meningkatnya perkembangan industri dan perubahan secara global dibidang pembangunan secara umum di dunia, Indonesia juga melakukan perubahan-perubahan dalam pembangunan baik dalam bidang tehnologi maupun industri. Dengan adanya perubahan tersebut maka konsekuensinya terjadi perubahan pola penyakit / kasus-kasus penyakit karena hubungan dengan pekerjaan. Seperti faktor mekanik (proses kerja, peralatan) , faktor fisik (panas , Bising, radiasi) dan faktor kimia. Masalah gizi pekerja juga merupakan hal yang sangat penting yang perlu diperhatikan, stress, penyakit Jantung, tekanan darah tinggi dan lain-lainnya. Perubahan ini banyak tidak disadari oleh pengelola tempat kerja atau diremehkan. Atau walaupun mengetahui pendekatan pemecahan masalahnya hanya dari segi kuratif dan rehabilitatif saja tanpa memperhatikan akan pentingnya promosi dan pencegahan

Promosi kesehatan ini dikembangkan dengan adanya Deklarasi Jakarta hasil dari konferensi Internasional Promosi Kesehatan di Jakarta bulan juli 1997. Dengan komitmen yang tinggi Indonesia ikut berperan dalam melakukan kegiatan tersebut terutama melalui program perilaku hidup bersih yang dilakukan di beberapa tatanan diantaranya adalah tatanan tempat kerja.

Masih sangat sedikit sekali pekerja dari perusahaan mendapatkan pelayanan kesehatan keselamatan kerja yang memuaskan, karena banyak para pimpinan perusahaan kurang menghubungkan antara tempat kerja, kesehatan dan pembangunan. Padahal kita ketahui bahwa pekerja yang sehat akan menjadikan pekerja yang produktif, yang mana sangat penting untuk keberhasilan bisnis perusahaan dan pembangunan nasional. Untuk itu promosi kesehatan di tempat kerja merupakan bagian yang sangat penting di tempat kerja.

  1. B. Perumusan Masalah
  1. Apa Yang Di Maksud Dengan Promosi Kesehatan Di Tempat Kerja
  2. Apa saja bagian dalam Prinsip Promosi Kesehatan Di Tempat Kerja.
  3. Langkah mengembangkan Promosi Kesehatan Di tempat Kerja

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

  1. PROMOSI KESEHATAN DI TEMPAT KERJA

Kalau kita membicarakan promosi kesehatan di tempat kerja sebelumnya tentu kita bagi kalimat tesebut menjadi beberapa bagian sehingga artinya menjadi jelas, seperti dibawah ini :

Promkesker à Adalah upaya memberdayakan masyarakat untuk memelihara, meningkatkan dan melindungi kesehatan diri serta lingkungannya. (The process of enabling people to increase control over, and to improve their health-Ottawa charter 1986.)

Memberdayakan adalah upaya untuk membangun daya, yang berarti mengembangkan kemandirian, yang dilakukan dengan menimbulkan kesadaran, kemauan dan kemampuan, serta dengan mengembangkan iklim yang mendukung pengembangan kemandirian tersebut.

Promosi kesehatan menempatkan masyarakat sebagai subyek – bukan obyek, sebagai pelaku bukan sasaran, dan aktif berbuat – bukan pasif menunggu.

Adalah suatu tempat yang sangat erat hubungannya dengan pekerja dan pengelola / yang memiliki serta pengunjung yang digunakan untuk melakukan suatu kegiatan produksi barang atau jasa dan saling interaksi, tempat tersebut dapat berupa ruangan terbuka, tertutup, bergerak atau tidak bergerak.

Upaya promosi kesehatan yang diselenggarakan di tempat kerja, selain untuk memberdayakan masyarakat di tempat kerja untuk mengenali masalah dan tingkat kesehatannya, serta mampu mengatasi, memelihara, meningkatkan dan melindungi kesehatannya sendiri juga memelihara dan meningkatkan tempat kerja yang sehat

Tujuan Promosi Kesehatan Di Tempat Kerja adalah :

  1. Mengembangkan perilaku hidup bersih dan sehat di tempat kerja.
  2. Menurunkan angka absensi tenaga kerja.
  3. Menurunkan angka penyakit akibat kerja dan lingkungan kerja
  4. Menciptakan lingkungan kerja yang sehat, medukung dan aman.
  5. Membantu berkembangnya gaya kerja dan gaya hidup yang sehat
  6. Memberikan dampak yang positif terhadap lingkungan kerja dan masayarakat.

Dua konsep yang sangat penting untuk meningkatkan kesehatan pekerja dan lingkungannya adalah pencegahan dan peningkatan kesehatan.

Secara mendasar Promosi Kesehatan Di Tempat Kerja adalah perlu melindungi individu (pekerja), lingkungan didalam dan diluar tempat kerja dari bahan-bahan berbahaya, stress atau lingkungan kerja yang jelek. Gaya kerja yang memperhatikan kesehatan dan menggunakan pelayanan kesehatan yang ada dapat mendukung terlaksananya promosi kesehatan di tempat kerja.

Keuntungan Promosi Kesehatan Di Tempat Kerja, secara umum : Promosi Kesehatan Di Tempat Kerja mendorong tempat kerja dan tenaga kerja yang sehat yang sangat penting bagi pertumbuhan ekonomi dan sosial.

Para pekerja yang sehat merupakan aset nasional. Perusahaan yang sehat mendukung pekerja yang sehat, yang mana merupakan dasar untuk kesejahteraan sosial ekonomi dari masyarakat. Perusahaan yang tidak sehat menjadikan pekerja yang tidak sehat, meningkatnya angka absensi dan angka kecelakaan, penyakit serta secara langsung ataupun tidak langsung meningkatkan biaya kesehatan yang tinggi bagi keluarga dan masyarakat.

Sepertiga dari waktu kehidupan pekerja banyak dihabiskan setiap harinya di tempat kerja, sehingga tempat kerja merupakan lingkungan yang yang tepat sekali untuk promosi kesehatan. Apabila hal ini dilalaikan konsekwensinya lingkungan tempat kerja dapat mempengaruhi kesehatan pekerja seperti stress, kecelakaan, penyakit akibat kerja dan bukan akibat kerja serta yang paling tidak diharapakan adalah kematian.

Kesehatan pekerja sangat berhubungan erat dengan lingkungan tempat kerja yang sehat dan ini merupakan faktor yang dapatmempengaruhi kesehatan keluarga dan masyarakat sekitarnya.

Kesehatan pekerja juga dipengaruhi oleh fakto-faktor yang bukan berhubungan dengan pekerjaan yang mempunyai dampak terhadap penampilan pekerja dan produktivitas pekerja antara lain seperti kondisi tempat tinggal yang kurang baik, hubungan keluarga yang tidak harmonis, merokok, menggunakan obat – obatan, minum alkohol, tidak seimbang gizi, kesulitan keuangan. Dengan meningkatkan pengetahuan dan kemampuan bagaimana memelihara dan meningkatkan kesehatan mereka , pekerja dan keluarga akan mendapatkan keuntungan seperti yang didapat di tempat kerja.

“GOOD HEALTH, GOOD BUSINESS.”


Sasaran dari Promosi Kesehatan Di tempat Kerja adalah:

  1. Primer : Karyawan di tempat kerja.
  2. Sekunder : Pengelola K3, serikat atau organisasi pekerja.
  3. Tertier : Pengusaha dan manajer/ Direktur.

Keuntungan Promosi Kesehatan Di Tempat Kerja

Bagi Perusahaan

Meningkatnya lingkungan tempat kerja yang sehat dan aman serta nyaman

Citra Perusahaan Positif

Meningkatkan moral staf

Menurunnya angka absensi

Meningkatnya produktifitas

Menurunnya biaya kesehatan atau biaya asuransi.

Pencegahan terhadap penyakit.

Bagi Pekerja

Lingkungan tempat kerja menjadi lebih sehat

Meningkatnya percaya diri

Menurunnya stress

Meningkatnya semangat kerja

Meningkatnya kemampuan

Meningkatnya kesehatan.

Lebih sehatnya keluarga dan masyarakat

  1. Prinsip Promosi Kesehatan Di Tempat Kerja.

Prinsip Promosi Kesehatan Di Tempat Kerja hendaknya dilakukan secara komprehensip, partisipasi dan kewenanganyang ada. Promosi Kesehatan Di Tempat Kerja hendaknya dikembangkan dengan melibatkan kerja sama dengan berbagai sektor yang terkait, dan melibatkan beberapa kelompok organisasi masyarakat yang ada sehingga lebih mantap serta berkesinambungan.

  1. Komprehensip.

Promosi Kesehatan Di tempat Kerja merupakan kegiatan yang melibatkan beberapa disiplin ilmu guna memaksimalkan tujuan yang ingin dicapai yaitu berkembangnya tempat kerja yang sehat, aman dan nyaman sehingga dengan lingkungan kerja yang mendukung tersebut diharapkan terjadi perubahan perilaku individu dan kelompok kearah yang positif sehingga dapat menjaga lingkungan agar tetap sehat.

  1. Patisipasi

Para pekerja di semua tingkatan dalam perusahaan hendaknya terlibat secara aktif mengindetifikasi masalah kesehatan yang dibutuhkan untuk pemecahannya dan meningkatkan kondisi lingkungan kerja yang sehat. Partisipasi para pengambil keputusan di tempat kerja merupakan hal yang sangat mendukung bagi para pekerja untuk lebih percaya diri dalam meningkatkan kemampuan mereka dalam merubah gaya hidup dan mengembangkan kemampuan pencegahan dan peningkatan terhadap penyakit.

  1. Keterlibatan berbagai sektor terkait.

Kesehatan yang baik adalah hasil dari berbagai faktor yang mendukung. Berbagai upaya untuk meningkatkan kesehatan pekerja hendaknya harus melalui pendekatan yang integrasi yang mana penekanannya pada berbagai faktor tersebut bila memungkinkan.

Untuk itu, meningkatkan kesehatan pekerja dan membangun tempat kerja yang sehat dibutuhkan koordinasi berbagai pengambil keputusan dari sektor-sektor terkait termasuk pemerintah, industri, sektor kesehatan, university yang terkait, organisasi pekerja, organisasi pengusaha , organisasi masyarakat, masyarakat dan lain-lain. Para propesional dari berbagai disiplin ilmu juga diperlukan

  1. Kelompok organisasi masyarakat.

Program pencegahan dan peningkatan kesehatan hendaknya melibatkan semua anggota pekerja, termasuk kelomok organisasi wanita dan laki-laki yang ada, termasuk juga tenaga honorer dan tenaga kontrak. Kebutuhan melibatkan dengan berbagai organisasi masyarakat yang mempunyai pengalaman atau tenaga ahli dalam membantu mengembangkan Promosi kesehatan Di Tempat kerja hendaknya di perhitungkan dalam mengembangkan program sebelumnya

  1. Berkesinambungan atau Berkelanjutan

Promosi kesehatan di tempat kerja yang berhubungan erat dengan kesehatan dan keselamatan kerja mempunyai arti penting pada lingkungan tempat kerja dan aktifitas manajemen sehari-hari. Program promosi kesehatan dan pencegahan hendaknya terus menerus dilakukan dan tujuannya jangka panjang. Apabila pelaksanaan promosi kesehatan di tempat kerja ingin lebih mentap, program hendaknya sesuai dan responsif terhadap kebutuhan pekerja dan masalah yang berhubungan dengan kondisi lingkungan kerja.

Mengembangkan Promosi Kesehatan Di tempat kerja dibutuhkan upaya dari semua sektor terkait baik di tingkat nasional, propinsi dan kabupaten. Sektor yang sangat erat dengan hal ini hendaknya menjadi leading dalam pelaksanaannya dan bertanggung jawab untuk mendorong sektor terkait lainnya untuk membantu dan partisipasi aktif seperti ; departemen kesehatan , tenaga kerja, perindustrian, lingkungan hidup dll. Idealnya Promosi Kesehatan Di Tempat kerja merupakan bagian dari strategi pelaksanaan dari semua perusahaan dan pelayanan pekerja. Dalam hal ini petugas kesehatan dan tenaga kerja, petugas lingkungan, petugas puskesmas atau klinik perusahaan, organisasi pekerja dan organisasi pengusaha akan mendukung kegiatan ini dalam satu bahasa

  1. Langkah mengembangkan Promosi Kesehatan Di tempat Kerja:

Mengembangkan Promosi Kesehatan Di tempat Kerja dapat melalui 8 langkah yaitu :

  1. 1. Menggalang dukungan manajemen.

Untuk mengembangkan Promosi kesehatan Di Tempat Kerja, dukungan dan komitmen dari para pengambil keputusan dari semua pihak sangat penting sekali. Ini termasuk bukan saja sebagai sponsor, tetapi komitmen untuk pelaksanaan Promosi kesehatan tersebut. Para manager hendaknya membuat program dan informasi umum tentang pelaksanaan promosi kesehatan yang diedarkan keseluruh staf untuk di diskusikan. Koordinator program hendaknya memilih fasilitas yang ada untuk pelaksanaan.

  1. 2. Melaksanakan koordinasi.

Untuk lancarnya proses jalannya pelaksanaan, para pengambil keputusan membentuk kelompok kerja (team) yang baik, contohnya panitia dari bagian kesehatan, bagian keselamatan, lingkungan dan ketenagaan. Kelompok kerja tersebut hendaknya mengikuti semua komponen yang terkait di semua tingkatan di tempat kerja maupun di sektor terkait. Anggota dari kelompok kerja disesuaikan dengan lingkungan yang ada, baik besarnya dan struktur dari tempat kerja tersebut

  1. Penjajakan Kebutuhan

Team hendaknya melakukan need assessmen. Hal ini untuk mengumpulkan segala informasi yang berhubungan dengan kesehatan dan keselamatan kerja. Tujuan dari need assessmen ini adalah mengidentifikasi masalah yang mempengaruhi kesehatan dan menjadikan nya program. Need assessmen merupakan dasar untuk disain program dan hal ini harus fokus pada permasalahan atau perhatian dari perusahaan dan pekerja. Hasil secara rinci dari need assessmen ini hendaknya dikoordinasikan dengan team dan manajemen perusahaan.

  1. 4. Memprioritaskan Kebutuhan .

Team memproiritaskan masalah berdasarkan keinginan dan kebutuhan masalah –masalah yang mempengaruhi kesehatan.

  1. 5. Menyusun perencanaan .

Berdasarkan prioritas masalah dan kebutuhan , team mengembangkan perencanaan yaitu perencanaan jangka panjang dan jangka pendek lengkap dengan goal dan tujuan, strateginya, aktifitasnya, biaya dan jadwal pelaksanaan. Biaya perencanaan hendaknya diajukan setiap tahun anggaran

  1. 6. Monitoring dan Evaluasi.

Monitoring dan Evaluasi merupakan hal yang sangat penting untuk melihat seberapa baiknya program tersebut terlaksana, untuk mengidentifikasi kesuksesan dan masalah-masalah yang ditemui dan umpan balik (feedback) untuk perbaikan

  1. 7. Revisi dan perbaikan program.

Setelah mendapatkan hasil dari evaluasi tentunya ada kekurangan dan masukan yang perlu untuk pertimbangan dalam melakukan perbaikan program, sekaligus merevisi hal yang sudah ada

BAB III

PENUTUP

  1. Kesimpulan

PKDTK merupakan kegiatan dari , oleh dan untuk pekerja dalam menanamkan perilaku hidup bersih dan sehat.

Kemitraan antara pekerja, manajer, organisasi pekerja dan instansi terkait beserta jajarannya sangat diperlukan dalam perencanaan, pelaksanaan, pengembangan dan evaluasi kegiatan.

Kejelasan peran dan keterbukaan sangatlah penting, kerena PKDTK adalah kegiatan yang bersifat sukarela.

Berbagai bentuk kegiatan tergantung kepada hasil pemetaan masalah dan kesepakatan bersama. Sehingga setiap tempat kerja dapat berbeda

  1. Saran – saran

Meningkatkan PKDTK adalah salah satu upaya perbaikan efektifitas suatu perusahaan dari PKDTK harus di giatkan di dalam sebuah perusahaan / industri

BAB IV

DAFTAR PUSTAKA

  1. World Health Organization (WHO). Environmental Health. Disitasi dari : http://www.WHO.int. Last Update : Januari 2008
  2. Departemen Kesehatan Repubik Indonesia.. Undang-undang Nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan.


kelompok 3

Anugerah Rahmatia
Eviana H.B
Mahmudah
Nurul Asiah
Susilawati

Kamis, 08 Oktober 2009

Manajemen Awal Kala I Persalinan


MANAJEMEN KALA I

Jika seorang ibu akan bersalin datang kepada keluarga maka, seorang bidan layaknya dapat menerima ibu dan keluarganya. Seringkali seorang petugas kesehatan terburu-baru dalam memberikan asuhan kepada wanita yang akan bersalalin. Hal ini akan mengakibatkan rasa takut dan kurang percaya dari pihak pasien dan keluarga terhadap bidan, terlebih bila dihadapkan dalam kondisi kegawatan।
Setelah menerima ibu dan keluarga dengan baik, bidan kemudian melakukan pengkajian terhadap riwayat kesehatan dan melakukan pemeriksaan fisik untuk menentukan:
- Apakah ibu sedang dalam persalinan
- Ibu dan bayi dalam keadaan baik
- Apakah ada komplikasi/penyulit
Setelah itu layaknya seorang bidan melakukan diagnosis apakah ibu sudah masuk dalam persalinan yang sesungguhnya atau belum, kemudian menentukan apakah ibu membutuhkan intervensi darurat segera। Kemudian bidan membuat rencana asuhan। Dari rencana asuhan yang telah ditetapkan kemudian diaplikasikan dan pada akhirnya dievaluasi untuk dinilai keberhasilan atau tidak dari asuhan yang diberikan

Langkah 1: Pengumpulan Data

RIWAYAT KESEHATAN
1. Meninjau kartu antenatal untuk:
· Usia kehamilan
· Masalah/komplikasi dengan kehamilan yang sekarang
· Riwayat kehamilan yang terdahulu
2. Menanyakan riwayat persalinan:
· Bagaimana perasaan ibu
· Berapa bulan kehamilan ibu sekarang?
· Kapan ibu mulai merasakan nyeri?
· Seberapa sering rasa nyeri terjadi? Dan berapa lama berlangsung? Seberapa kuat rasa nyeri tersebut?
· Apakah ibu memperhatikan adanya lendir darah?
· Apakah ibu mengalami perdarahan dari vagina?
· Apakah ibu melihat adanya aliran/semburan cairan? Jika ya, kapan? Bagaimana warnanya? Berapa banyak?
· Apakah bayi bergerak?
· Kapan terakhir ibu buang air besar? Kencing?
· Persalinan terdahulu: berapa lama berlangsung? Berat badan bayi?

PEMERIKSAAN FISIK & BAYI
1. Melakukan pemeriksaan fisik
· Tekanan darah, nadi, suhu tubuh
· Edema/pembengkakan pada muka, jari, tangan, kaki dan pretibia tungkai bawah
· Warna pucat pada mulut dan konjungtiva
· Refleks-refleks
· Abdomen: luka bekas operasi, TFU, gerakan janin, kontraksi, pemeriksaan leopold’s, penurunan kepala janin
· DJJ
· Genital luar: luka, cairan, lendir darah, perdarahan, cairan ketuban
· Genital dalam: penipisan cerviks, dilatasi, penurunan kepala janin, membran/selaput ketuban

Langkah 2: Menilai dan Membuat Diagnosa
Dari temuan pada data diatas maka bidan dapat mengambil keputusan apakah ibu sudah masuk kedalam persalinan sesungguhnya atau belum, jika sudah masuk dalam persalinan yang sesungguhnya maka dalam kala berapa ibu sekarang

Asesmen pada persalinan sesungguhnya:
Persalinan juga harus dicurigai pada ibu dengan umur kehamilan > 22 minggu usia kehamilan, dimana ibu merasa nyeri abdomen berulang dengan disertai cairan lendir yang mengdung darah atau “show”. Agar dapat mendiagnosa persalinan, bidan harus memastikan perubahan cerviks dan kontraksi yang cukup
Bagaimana cara membedakan persalinan sesungguhnya dengan persalinan semu?

PERSALINAN SESUNGGUHNYA PERSALINAN SEMU
Serviks menipis dan membuka
Tidak ada perubahan pada cerviks
Rasa nyeri dengan interval yang teratur
Rasa nyeri tidak teratur
interval antara rasa nyeri yang secara perlahan semakin pendek
tidak ada perubahan interval antara rasa nyeri yang satu dengan yang lain
Waktu dan kekuatan kontraksi semakin bertambah
Tidak ada perubahan pada waktu dan kekuatan kontraksi
Rasa nyeri bagian belakang dan menyebar ke bagian depan
Kebanyakan rasa nyeri di bagian depan
Berjalan menambah intensitas
Tidak ada perubahan rasa nyeri dengan berjalan
Ada hubungan antara tingkat kekuatan kontraksi dengan intensitas rasa nyeri
Tidak ada hubungan antara tingkat kekuatan kontraksi uterus dengan intensitas rasa nyeri
Lendir darah sering tampak
Tidak ada lendir darah
Ada penurunan bagian terendah janin
Tidak ada kemajuan penurunan bagian terendah janin
Bagian terendah janin sudah terfiksasi di PAP diantara kontraksi
Bagian terendah belum masuk PAP walaupun ada kontraksi
Pemberian obat penenang tidak menghentikan proses persalinan yang sesungguhnya
Pemberian obat penenang yang efisien menghentikan rasa nyeri pada persalinan semu


Langkah 3: Membuat Rencana Asuhan
Selama persalinan seorang bidan harus melakukan asesmen dan intervensi agar dapat:
· Memantau perubahan tubuh ibu untuk menentukan apakah persalinan dalam kemajuan yang normal
· Memeriksa perasaan ibu dan respon fisik terhadap persalinan
· Memeriksa bagaimana bayi bereaksi saat persalinan dan kelahiran
· Membantu ibu memahami apa yang sedang terjadi sehingga ia berperan serta aktif dalam menentukan asuhan
· Membantu keluarga dalam merawat ibu selama persalinan, menolong kelahiran dan memberikan asuhan pasca persalinan dini
· Mengenali masalah secepatnya dan mengambil keputusan serta tindakan yang tepat guna dan tepat waktu (efektif dan efisien)

Asesmen yang wajib/harus dimasukkan dalam rencana tindakan:
Pemantauan terus menerus kemajuan persalinan menggunakan partograf
Pemantauan terus-menerus TTV ibu
Pemantauan terus menerus keadaan bayi
Memenuhi kebutuhan hidrasi ibu
Menganjurkan perubahan posisi dan ambulasi
Menganjurkan tindakan yang memberikan pada rasa nyaman
Menganjurkan keluarga memberi dukungan
Tabel brikut menguraikan frekuensi minimal penilaian dan intervensi. Jika ibu menunjukkan tanda-tanda komplikasi atau gejala komplikasi atau perubahan kondisi, penilaian harus dilakukan lebih sering

Parameter
Frekuensi pada fase laten
Frekuensi pada fase aktif
Tekanan darah
Setiap 4 jam
Setiap 4 jam
Temperatur/suhu
Setiap 4 jam
Setiap 4 jam
Nadi
Setiap 30 menit
Setiap 30 menit
DJJ *
Setiap 1 jam
Setiap 30 menit
Kontraksi uterus
Setiap 1 jam
Setiap 30 menit
Perubahan cerviks *
Setiap 4 jam
Setiap 2-4 jam
Penurunan bagian terendah janin
Setiap 4 jam
Setiap 2-4 jam
Urine
Setiap 2 jam
Setiap 2 jam

* Segera setelah selaput ketuban robek, bidan harus mendengarkan DJJ dan melakukan pemeriksaan dalam untuk memeriksa kemungkinan tali pusat menumbung

Senin, 17 Agustus 2009

Semua tentang kita

Semua Tentang Kita

by Peterpan

Waktu terasa semakin berlalu Tinggalkan cerita tentang kita Akan tiada lagi kini tawamu Tuk hapuskan semua sepi di hati

Chorus: Ada cerita tentang aku dan dia dan kita bersama saat dulu kala Ada cerita tentang masa yang indah Saat kita berduka saat kita tertawa Teringat di saat kita tertawa bersama Ceritakan semua tentang kita